BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Segala sesuatu tentang penulisan ulang mengenai dunia islam, baik sejarah-sejarah dunia islam maupun pada masa sayyidah fatimah pastinya bersifat terbuka ddan milik hak semua orang. Hanya bagaimana cara kita mengaplikasikannya secara baik dan benar.
Makalah ini lebih banyak menulusuri apa saja yang terjadi pada dunia islam pada masa sayyidah Fatimah Az zahra. Karna banyak nilai-nilai positif yang dapat kita ambil dari masa sayyidah fatimah
1.2 Rumusan Masalah
Pembuatan makalah ini secara garis besar akan membahas tentang:
1.Sejarah sayyidah Fatimah Az zahra (wanita syurga yang tak ada duanya)
2.Cinta suci Fatimah Az Zahra
3.kelebihan sayyidah Fatimah Az Azahra
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini tidak lain hanya untuk memperkaya nuansa islam, khususnya pada masa sayyidah Fatimah Az Azahra dalam studi Sejarah Kebudayaan islam Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 sayyidah fatimah Az ZAhra (wanita syurga tiada duanya)
Nama : Fathimah
Gelar : Az-Zahra
Julukan : Ummu al-Aimah, Sayyidatu Nisa’, al-‘Alamin, Ummu Abiha
Ayah : Muhammad Rasulullah saww
Ibu : Khadijah al-Kubra
Tempat/Tgl Lahir : Makkah, Hari Jum’at, 20 Jumadi al-Tsani (jamadil akhir)
Hari/Tgl Wafat : Selasa, 3 Jumadi al-Tsani Tahun 11 H
Umur : 18 Tahun
Makam: ???
Jumlah Anak : 4 orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan
Laki-laki : Hasan dan Husein
Perempuan : Zainab dan Ummu Kaltsum
Riwayat Hidup
Di antara anak wanita Rasulullah s.a.w, Fathimah Az-Zahra a.s, merupakan wanita paling utama kedudukannya. Kemuliannya itu diperoleh sejak menjelang kelahirannya, yang didampingi wanita suci sebagaiman yang diucapkan oleh Khadijah:
"Pada waktu kelahiran Fartimah a.s, aku meminta bantuan wanita-wanita Quraish tetanggaku, untuk menolong. Namun mereka menolak mentah-mentah sambil mengatakan bahwa aku telah menghianati mereka dengan mendukung Muhammad. Sejenak aku bingung dan terkejut luar biasa ketika melihat empat orang tinggi besar yang tak kukenal, dengan lingkaran cahaya disekitar mereka mendekati aku. Ketika mereka mendapati aku dalam kecemasan salah seorang dari mereka menyapaku: ‘Wahai Khadijah! Aku adalah Sarah, ibunda Ishhaq dan tiga orang yang menyapaku adalah Maryam, Ibunda Isa, Asiah, Putri Muzahim, dan Ummu Kultsum, Saudara perempuan Musa. Kami semua diperintah oleh Allah untuk mengajarkan ilmu keperawatan kami jika anda bersedia". Sambil mengatakan hal tersebut, mereka semua duduk di sekelilingku dan memberikan pelayanan kebidanan sampai putriku Fathimah a.s lahir."
Meningkat usia 5 tahun, beliau telah ditinggal pergi ibunya. Tidak secara langsung beliau mengantikan tempat ibunya dalm melayani, membantu dan memebela Rasulullah s.a.w, sehingga beliau mendapat gelar Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Dan dalam usia yang masih kanak-kanak, beliau juga telah dihadapkan kepada berbagai macam uji coba. Beliau melihat dan meyaksikan perlakuan keji kaum kafir Quraish kepada ayahandanya, sehingga seringkali pipi beliau basah oleh linangan air mata kerana melihat penderitaan yang dialalmi ayahnya.
Ketika Rasulullah pindah ke kota Madinah beliau ikut berhijrah bersama ayahnya. Selang beberapa tahun setelah hijrah tepat pada tanggal 1 dzulhijjah, hari jum’at, tahun 2 Hijrah, beliau menikah dengan Ali bin Abi Thalib.
Dari pernikahannya suci yang diberkati oleh Allah SWT, beliau dikaruniai dua orang putra; Hasan dan Husein serta dua orang putri, Zainab dan Ummi Kaltsum, mereka semua terkenal sebagai orang yang sholeh, baik dan pemurah hati.
Fathimah bukan hanya seorang anak yang paling berbakti pada ayahnya, tapi sekaligus sebagai seorang istri yang setia mendampingi suaminya disegala keadaan serta sebagai pendididk terbaik telah berhasil mendidik anak-anaknya.
Masa-masa indah bagi beliau adalah ketika hidup bersama Rasulullah s.a.w. Beliau mempunyai tempat agung disisi Rasulullah sehingga digambarkan di kitab Thabari Hal 40, Siti Aisah berkata: “Aku tidak melihat orang yang pembicaraannya mirip dengan Rasulullah s.a.w seperti Fathimah as. Apabila datang kepada ayahanya, beliau berdiri, menciumnya, menyambut gembira dan mengiringnya lalu didudukkan di tempat duduk beliau. Apabila Rasulullah datang kepadanya, ia pun berdiri menyambut ayahandanya dan mencium tangan beliau s.a.w".
Tidak heran, jika setelah kepergian baginda Rasulullah, beliau sangat sedih dan berduka cita, hatinya menangis dan menjerit sepanjang waktu. Namun perlu diketahui bahwa kesedihan dan tangisannya itu bukanlah semata-mata kehilangan Rasulullah s.a.w tapi juga beliau melihat kelakukan umat sesudahnnya yang sudah banyak menyimpang dari ajaran ayahnya, dimana penyimpangan itu akan membawa kesengsaraan bagi kehidupan mereka.
Sejarah mencatat bahwa Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s setelah kepergian Rasulullah s.a.w tidak penah terlihat senyum apalagi tertawa. Sejarah juga mencatat bahwa antara beliau dengan khalifah pertama dan kedua terjadi perselisihan tentang tanah Fadak dan tentang masalah lainnya. Menurut Sayyidah Fathimah a.s tanah itu adalah hadiah dari ayahnya untuk dirinya, namun khalifah berkata: "Bahwa nabi tidak meninggalkan sesuatau dari keluarganya, sedangkan warisan nabi berubah statusnya menjadi sedekah yang digunakan untuk kemaslahatan kaum muslimin".
M.H. Shakir berbependapat: "Wafat Rasulullah s.a.w sangat mempengaruhinya, ia sangat sedih, berduka dan tangis hatinya memekik sepanjang masa. Sayang sekali, setelah wafat nabi, pemerintah mengambil alih tanah fadak dan menyerahkannya sebagai milik negara".
Kehidupan Fathimah az-Zahra a.s, wanita agung sepanjang masa adalah kehidupan yang diwarnai kesucian, kesederhanaan, pengabdian, perjuangan dan pengorbanan bukan kehidupan yang diwarnai kemewahan yang ramah dan lembut.
Fathimah hanya hidup tidak lebih dari 75 hari setelah kepergian ayahnya. Pada tanggal 14 Jumadil Ula, tahun 11 Hijriyah wanita suci, wanita agung dan mulia sepanjang masa, menutup mata dalam usia yag relatif muda yaitu 18 tahun.
Namun sebelum wafatnya beliau mewasiatkan keinginan kepada Imam ali as yang isinya:
1.Wahai Ali, engkau sendirilah yang harus melaksanakan upacara pemakamanku.
2.Mereka yang tidak membuat aku rela/ridha, tidak boleh menghadiri pemakamanku.
3.Jenazahku harus dibawa ke tempat pemakaman pada malam hari.
Fathimah Az-Zahra ," Putri bungsu Rasulullah sa.w, telah tiada. Tidak ada ungkapan yang mampu mengambrakan keagungan Fathimah Az-Zahra yang sebenarnya. DR. Ali Syariati memberikan komentar tentang Fathimah: " Saya akan bangga dan hendak mengatakan , "Fathimah a.s adalah putri Khadijah yang besar". Saya rasa itu bukan Fathimah a.s. Saya hendak mengatakan," Fathimah a.s adalah putri Rasulullah s.a.w. Saya rasa itu bukan juga Fathimah. Saya hendak mengatakan, "Fathimah a.s adalah istri Ali. Saya rasa itu juga bukan Fathimah A.s. Saya hendak mengatakan Fathimah a.s adalah ibunda Zainab. Saya masih merasa itu bukan Fathimah a.s. Tidak, semua itu benar tetapi tak satupun yang menggambarkan Fathimah a.s yang sesungguhnya.
2.2 Cinta suci sayyidah fatimah.
Inilah kisah cinta suci antara sayyidah fatimah dan Ali bin Abi Thalib. Cinta Fatimah Az-Zahra dan sahabat Ali bin abi thalib memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi.
Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Konon, karena saking teramat rahasianya, setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya. Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar melamar Fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya.
Namun, kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannya yang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah.
Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali,
"Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya",
Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, "Pemuda itu adalah dirimu".
Diceritakan, Ali Bin Abi Thalib waktu itu ingin melamar Fatimah, putri nabi Muhammad saw. Tapi karena dia tidak mempunyai uang untuk membeli mahar, maka ia membatalkan niat itu. Ali segera berhijrah untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Pada saat Ali sedang bekerja keras, ia mendengar kabar kalau Abu Bakar ternyata melamar Fatimah. Wah, bagaimana agaknya perasaan Ali, wanita yang sudah dia inginkan dilamar oleh seseorang yang ilmu agamanya lebih hebat dari dia. Tetapi Ali tetap bekerja dengan giat.
Lalu setelah beberapa lama Ali mendengar kabar kalau lamaran Abu Bakar kepada Fatimah ditolak. Ali tertegun dan sedikit bergembira tentunya, kata Ali “waah, saya masih punya kesempatan ”. Setelah mendengar kabar itu, Ali bekerja lebih giat lagi agar cepat mengumpulkan uang dan segera melamar Fatimah. Tapi tak lama setelah itu, Ali mendengar kabar kalau Umar Bin Khatab melamar Fatimah. Wah, sekali lagi Ali mendahulukan orang lain, bagaimana perasaannya? Tapi tak berapa lama Ali mendengar kalau lamaran Umar bin Khatab ditolak. betapa senangnya Ali, mendengar kabar itu.
Tapi tak lama, kesenangan itu kembali pudar karena terdengar kabar lagi, ternyata Utsman bin Affan melamar Fatimah. ini sudah yang ketiga kalinya, kata Ali “mungkin kali ini diterima. Kalaulah Usman tidak melamar Fatimah secepat ini, InsyaAllah tidak lama lagi saya akan melamar Fatimah, tapi , apa hendak dikata , adakah mau mengalah?".
Dan sekali lagi, tidak berapa lama dari itu, kabar ditolaknya lamaran Utsman bin Affan pun terdengar lagi, betapa bahagianya Ali. Semangat Ali untuk melamar Fatimah pun berkobar lagi, dan semangat itu didukung oleh sahabat-sahabat Ali. Kata sahabatnya “ pergilah Ali, lamar Fatimah sekarang, tunggu apa lagi? kamu kan sudah bekerja keras selama ini, kamu juga sudah mengumpulkan harta dan cukup untuk membeli mahar. tunggu apa lagi? Tunggu yang ke4 kalinya? baik cepat!”
Dengan segera Ali memeberanikan diri untuk menghadap ke Nabi Muhammad saw. dengan tujuan melamar Fatimah, dan sahabat-sahabat tahu? lamarannya diterima!
Ternyata memang dari dulu Fatimah az-Zahra sudah mempunyai perasaan dengan Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu juga dengan Ali, dari dulu dia juga sudah mempunyai perasaan dengan Fatimah az-Zahra. Tapi mereka berdua sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saatnya tiba, sampai saatnya Ijab Kabul disahkan. Walaupun Ali sudah merasakan kekecewaan 3 kali mendahulukan orang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga.
“Jodoh memang tidak kemana”,dari cerita itu, lebih memperjelas lagi kan bahwa “Cinta itu, mengambil kesempatan , atau mempersilakan yang lain”
Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang, namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan Cinta yang mengendalikan Diri kita, Tetapi Diri kita yang mengendalikan Cinta. Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut disekitar kita saat ini. Walaupun bukan tidak ada.. barangkali, kita saja yang tidak mengetahuinya. Dan inilah kisah dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah tentang membingkai perasaan dan bertanggung jawab akan perasaan tersebut “Bukan janj-janji”
Akhirnya Ali pun menikahi Fatimah az-Zahra
Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan sahabat-sahabatnya tapi Nabi berkeras agar ia membayar bakinya, Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, Umar dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. Ali adalah gentleman sejati.,“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali.
Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fatimah berkata kepada Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” :)
2.3 Kelebihan sayyidah fatimah Az zahra
1.Mengakui Kerasulan Ayah di Perut Ibu
Tatkala orang-orang kafir meminta Rasulullah saw membelah bulan, pada masa itu Sayyidah Khadijah mengandung Sayyidah Fathimah. Sayyidah Khadijah sangat bersedih hati mendengar permintaan orang-orang kafir itu seraya berkata, "Sungguh celaka orang-orang yang mendustakan Muhammad! Padahal dia adalah utusan Tuhanku."
Kemudian Sayyidah Fathimah berseru di perut ibunya, "Wahai ibu, jangan takut dan bersedih hati; karena Allah pasti menolong ayahku."
Ketika masa kehamilan Sayyidah Khadijah telah sempurna (sembilan bulan) dan tibalah masa kelahiran, Sayyidah Khadijah melahirkan Sayyidah Fathimah yang cahaya keindahannya menerangi dan menyinari seluruh alam semesta.
Berbicara dalam Rahim Ibu
Sayyidah Fathimah berbicara dengan ibunya, Sayyidah Khadijah, sejak dalam rahim serta memberikan ketenangan dan ketenteraman ke dalam hatinya. Rasulullah saw bertanya kepadanya, "Dengan siapakah engkau bicara?"
Sayyidah Khadijah menjawab, "Janin yang ada dalam perut saya mengajak saya bicara dan menghibur hati saya. Malaikat Jibril memberitahu saya bahwa anak ini perempuan."
2.Berkah Makanan
Imam Ali menuturkan: Suatu hari, saya pergi ke pasar membeli daging seharga satu dirham dan sayur-mayur juga satu dirham, lalu membawanya ke rumah. Kemudian Fathimah mulai memasaknya. Sewaktu makanan telah siap dihidangkan, dia berkata, "Alangkah bahagianya hati saya jika saja saya mengajak ayah saya makan bersama."
Kemudian, saya pergi dan melihat Rasulullah saw sedang tidur dan berkata, "Dalam tidur, saya berlindung kepada Allah dari kelaparan."
Saya mengatakan, "Wahai Rasulullah! Datanglah ke tempat kami untuk makan bersama."
Lalu, kami pun pergi bersama hingga sampai di rumah Fathimah. Rasulullah saw bersabda kepada Fathimah, "Hidangkanlah makanan!"
Sayyidah Fathimah membawa semangkuk makanan dan meletakkannya di hadapan Rasulullah saw. Beliau membuka kain penutup mangkuk itu dan bersabda, "Ya Allah, berkatilah makanan kami!"
Kemudian, beliau bersabda, "Berikan sebagian makanan ini kepada Aisyah!"
Fathimah mengirimkan sebagian makanan itu untuk Aisyah. Kembali Rasulullah saw bersabda, "Berikan sebagian makanan ini kepada Ummu Salamah!"
Dia pun mengirimkannya untuk Ummu Salamah, hingga seluruh istri-istri Rasulullah saw beroleh bagian dari makanan tersebut. Setelah itu, Rasulullah saw bersabda, "Hidangkan makanan untuk ayah dan suamimu. Engkau juga harus makan dan bagikanlah makanan ini untuk para tetangga."
Fathimah menjalankan perintah Rasulullah saw. Namun, makanan tersebut tetap utuh seperti semula, bahkan kami memakannya selama beberapa hari.
Cahaya Memancar dari Selimut Sayyidah Fathimah
Diriwayatkan bahwa Imam Ali meminjam sedikit gandum kepada seorang Yahudi dengan menggadaikan selimut Sayyidah Fathimah. Orang Yahudi itu lalu membawa selimut tersebut dan menyimpannya di rumahnya. Di waktu malam, istri lelaki Yahudi itu memasuki ruangan yang di dalamnya terdapat selimut Sayyidah Fathimah, untuk suatu keperluan. Tiba-tiba, dia melihat cahaya memancar yang menerangi ruangan tersebut. Bergegas dia menjumpai suaminya dan berkata kepadanya, "Saya melihat cahaya terang benderang di ruangan itu."
Suaminya juga terkejut dan lupa bahwa selimut Sayyidah Fathimah ada di ruangan tersebut. Dia segera bangkit dan memasuki ruangan serta melihat selimut tersebut memancarkan cahaya bak sinar rembulan yang hampir terbit. Dia terperanjat menyaksikan pemandangan itu, kemudian memeriksa tempat diletakkanya selimut itu dan mulai paham bahwa cahaya itu memang terpancar dari selimut tersebut. Orang Yahudi itu pergi dan memanggil kaumnya; sang istrinya juga mengundang kaumnya. Sekitar 80.000 orang Yahudi berkumpul. Tatkala menyaksikan kejadian ini, semuanya masuk Islam.
3.Gilingan Gandum Berputar Sendiri (1)
Abu Dzar al-Ghiffari menuturkan: Rasulullah saw mengutus saya mencari (Imam) Ali. Saya pun pergi ke rumahnya dan memanggilnya. Namun, beliau tidak menjawab seruan saya. Lalu, saya melihat gilingan gandum berputar dengan sendirinya tanpa ada yang menggerakkannya. Kembali saya memanggilnya dan beliau pun keluar. Kami pun pergi bersama menemui Rasulullah saw. Rasulullah saw menghadap ke arah (Imam) Ali dan mengatakan sesuatu kepadanya yang tak saya mengerti.
Saya berkata, "Sungguh menakjubkan, gilingan gandum berputar dengan sendirinya."
Saat itulah, Rasulullah saw bersabda, "Allah Swt memenuhi hati dan anggota tubuh putriku, Fathimah, dengan iman dan keyakinan. Tatkala Allah mengetahui kelemahan (fisik)nya, pada hari kiamat kelak Dia membantu dan mencukupi kebutuhannya. Tahukah engkau bahwa Allah Swt menjadikan para malaikat untuk membantu keluarga Muhammad?"
Gilingan Gandum Berputar Sendiri (2)
Abu Saleh al-Muadzin menukilkan keutamaan dan kelebihan Sayyidah Fathimah al-Zahra: Maimunah, istri Rasul Mulia saw menuturkan:
Rasulullah saw memberikan sedikit gandum kepada saya dan menyuruh saya ke rumah Fathimah untuk menggiling gandum tersebut. Saya melihat Fathimah berdiri dan gilingan gandum berputar dengan sendirinya. Saya pun menceritakan kejadian ini kepada Rasul Mulia saw.
Beliau berkata, "Allah Swt mengetahui kelemahan (fisik) dan ketidakmampuan Fathimah. Karenanya, Dia perintahkan kepada gilingan gandum agar berputar dengan sendirinya. Gilingan itu pun berputar atas perintah Allah Swt."
Bergabung dalam Mubahalah
Sekelompok kaum Nashrani Najran (Yaman) datang menemui Rasulullah saw. Tiga orang uskup besar mereka bernama Aqib, Muhsin, dan Asqaf pun datang. Dua orang tokoh terkenal Yahudi juga hadir bersama mereka untuk melontarkan beberapa pertanyaan kepada Rasulullah saw.
Asqaf bertanya, "Wahai Abul Qasim, siapa ayah Musa?"
Rasulullah saw menjawab, "Imran."
Dia bertanya, "Siapa ayah Yusuf?"
Beliau menjawab, "Ya'qub."
Dia bertanya, "Ayah dan ibu saya menjadi tebusan Anda, siapa ayah Anda?"
Beliau menjawab, "Abdullah, putra Abdul Muththalib."
Asqaf bertanya, "Siapa ayah Isa?"
Rasulullah saw diam. Malaikat Jibril pun turun dan berkata, "Dialah ruh dan kalimat Allah."
Asqaf bertanya, "Mungkinkah terjadi ruh tanpa melalui seorang ayah?"
Rasulullah saw diam. Pada saat itulah turunlah wahyu: Sesungguhnya penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, "Jadilah (seorang manusia)," maka jadilah dia.(Ali Imran: 59)
Tatkala Rasulullah saw membacakan ayat ini, Asqaf berdiri meninggalkan tempat duduknya. Sebab, dia tidak bisa terima bahwa Isa tercipta dari tanah. Kemudian, dia berkata, "Wahai Muhammad! Kami tak menemukan hal ini dalam kitab Taurat, Injil, dan Zabur. Hanya engkau yang berpendapat seperti ini."
Kemudian Allah Swt mewahyukan: “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (Ali Imran: 61)
Asqaf dan orang-orang yang bersamanya mengatakan, "Wahai Abul Qasim, engkau berlaku Adil. Maka, tentukan waktu mubahalah itu!"
Rasulullah saw berkata, "Insya Allah, besok pagi."
Keesokan harinya, usai shalat Subuh, Rasulullah saw menggandeng tangan Imam Ali, sementara pemuka kaum wanita semesta alam, Sayyidah Fathimah, di belakangnya, Imam Hasan di samping kanan, dan Imam Husain di samping kiri. Beliau berkata kepada mereka, "Ketika saya berdoa, ucapkanlah amin!"
Kemudian, Rasulullah saw berlutut untuk memanjatkan doa. Tatkala kaum Nasrani menyaksikan kedatangan lima orang suci itu, mereka menyesal dan mengadakan rapat di antara mereka. Mereka berkata, "Demi Tuhan! Dia seorang nabi. Jika kita bermubahalah dengannya, Tuhan pasti mengabulkan doa mereka dan kita semua bakal musnah hingga tak seorang pun di antara kita yang selamat dari kutukannya. Sebaiknya, kita berdamai dengannya dan mengundurkan diri dari mubahalah."
Menyiapkan Makan
Qutub al-Rawandi meriwayatkan dengan sanad otentik dari Jabir bin Abdillah al-Anshari: Selama beberapa hari, Rasulullah saw tidak makan dan rasa lapar sangat menguasai beliau. Kemudian, beliau pergi ke rumah istri-istri beliau, namun tak menemukan makanan. Lalu, beliau pergi ke rumah Sayyidah Fathimah dan bertanya, "Wahai putri kesayanganku, apakah engkau punya makanan yang bisa kumakan?" Sebab, rasa lapar melemahkan tubuhku."
Sayyidah Fathimah menjawab, "Tidak ada, demi Allah, saya tidak punya makanan, jiwa saya sebagai tebusan Anda."
Rasulullah saw keluar dari rumah Sayyidah Fathimah. Tak lama kemudian, seorang budak wanita memberikan kepada Sayyidah Fathimah dua potong roti dan sekerat daging. Kemudian, Sayyidah Fathimah menyimpannya dalam mangkuk besar dan menutupinya dengan kain. Dia berkata, "Demi Allah, aku lebih mementingkan Rasulullah saw ketimbang diriku sendiri dan anak-anakku, meskipun semuanya kelaparan dan butuh makan."
Sayyidah Fathimah mengutus al-Hasan dan al-Husain untuk mencari Rasulullah saw. Tatkala Rasulullah saw datang, Sayyidah Fathimah mengatakan, "Wahai ayah! Setelah kepergian Anda, Allah Swt menganugrahkan makanan kepada saya. Saya menyimpannya untuk Anda dan lebih mendahulukan Anda ketimbang anak-anak saya."
Rasulullah saw bersabda, "Bawa kemari makanan itu, wahai putriku!"
Tatkala Rasulullah saw membuka kain penutup mangkuk besar itu, dengan kuasa Allah, mangkuk itu pun penuh dengan roti dan daging. Sewaktu menyaksikan hal itu, Sayyidah Fathimah terkejut. Dia yakin, makanan itu datang dari sisi Allah. Setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah saw, Sayyidah Fathimah membawa makanan itu ke hadapan Rasulullah saw.
Rasulullah saw melihat mangkuk besar itu penuh dengan makanan, beliau pun bersyukur kepada Allah Swt. Lantas, beliau bertanya, "Dari mana engkau memperoleh makanan ini?"
Sayyidah Fathimah menjawab, "Dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendakinya tanpa perhitungan."
Kemudian Rasul Mulia saw mencari Amirul Mukminin Ali. Rasulullah, Amirul Mukminin Ali, Sayyidah Fathimah, al-Hasan, al-Husain, dan seluruh istri Nabi saw menyantap makanan itu sampai kenyang.
Sayyidah Fathimah menuturkan: "Makanan dalam mangkuk itu tetap utuh dan tak berkurang sama sekali. Bahkan, saya bisa mengeyangkan perut para tetangga. Sungguh, Allah melimpahkan kebaikan dan berkah pada makanan tersebut."
Menghidupkan Pengantin Wanita
Suatu hari, Rasulullah saw duduk di samping Kabah seraya meratap dan merintih di hadapan Allah Swt. Sekelompok pembesar dan bangsawan Mekah datang menemui beliau dan mengucapkan salam. Dengan wajah ceria dan sikap ramah, Rasulullah saw menjawab salam mereka. Mereka mengatakan, "Wahai Nabi Islam dan kebanggan alam semesta! Kami datang kepada Anda untuk mengabarkan bahwa kami akan melangsungkan akad dan resepsi pernikahan antara putri fulanah dengan putra fulan yang keduanya berasal dari pembesar dan bangsawan Arab. Kami bermaksud mengundang putri Anda untuk menghadiri acara tersebut. Perkenankanlah dia datang ke pesta pernikahan tersebut dan kehadiran putri Anda akan menghiasi majlis kami dan menerangi rumah kami."
Rasulullah saw bersabda, "Bersabarlah! Saya akan pergi ke rumah putriku, Fathimah, dan memberitahukan padanya perihal undangan kalian ini. Jika dia berniat datang, maka saya akan beritahu kalian."
Rasulullah saw pergi ke rumah putrinya, Sayyidah Fathimah. Sesampainya di sana, beliau mengucapkan salam dan menceritakan padanya perihal undangan para pembesar Arab untuk acara pernikahan itu. Beliau ingin mengetahui pendapat putrinya, apakah dia hendak menghadiri acara pernikahan tersebut atau tidak?
Sejenak Sayidah Fathimah tenggelam dalam pikirannya. Lantas, dia berkata, "Jiwa saya sebagai tebusan Anda, wahai kekasih Allah yang Mahamulia! Wahai pemberi syafaat seluruh umat manusia. Saya berpikir bahwa undangan pernikahan mereka bertujuan untuk mengejek dan memperolok-olok diri saya. Sebab, para wanita dan gadis-gadis bangsawan Arab pada pesta pernikahan itu mengenakan pakaian mewah dan mahal, serta berhias diri dengan emas dan permata. Mereka berkumpul di samping pengantin wanita dengan angkuh dan sombong. Akan tetapi, saya tak punya apa-apa selain pakaian usang bertambal dan sepatu yang rusak pula untuk pergi ke sana. Jika saya datang dengan penampilan seperti ini, mereka pasti memperolok-olok, menghina, dan mengejek diriku."
Tatkala Rasulullah saw mendengar penuturan putrinya, Fathimah al-Zahra, hatinya pun sedih. Beliau menarik nafas panjang dan meneteskan air mata.
Dalam kondisi seperti itu, Malaikat Jibril datang sisi dari Allah menjumpai Rasulullah saw seraya mengatakan, "Wahai Rasulullah! Allah yang Mahaagung lagi Mahatinggi menyampaikan salam padamu dan Fathimah, dan Dia berfirman: Katakanlah pada Fathimah, agar dia mengenakan pakaian yang dia miliki dan pergi ke acara pernikahan. Sesungguhnya Kami menyimpan hikmah dalam hal ini."
Rasul Mulia saw menyampaikan pesan Allah ini kepada putrinya, Sayyidah Fathimah al-Zahra. Sayyidah Fathimah al-Zahra berkata, "Apapun perintah Allah, saya pasti melaksanakannya. Saya menerima keputusan dan perintah-Nya dengan segenap jiwa dan hati saya."
Sayyidah Fathimah melakukan sujud syukur, kemudian berdiri dan mengenakan pakaian usang dan bertambal. Setelah itu, dia minta izin kepada ayahnya untuk menghadiri acara pernikahan tersebut. Dalam kondisi seperti itu, para malaikat langit ketujuh meratap dan merintih di hadapan Allah seraya berkata, "Ya Allah, janganlah Engkau permalukan dan hancurkan hati putri Nabi akhir zaman yang merupakan kekasih-Mu dan Engkau memilihnya sebagai penghulu kaum wanita semesta alam. Kami tak tega melihatnya bersedih hati."
Saat itulah, Allah Swt memerintahkan kepada malaikat Jibril agar secepatnya mengambil pakaian dari surga dan turun ke bumi bersama ribuan bidadari yang bertugas memakaikan pakaian surga pada tubuh Sayyidah Fathimah, sehingga putri Nabi saw datang ke acara pernikahan dengan agung dan terhormat.
Malaikat Jibril mematuhi perintah Allah dan segera menemui Sayyidah Fathimah bersama seribu bidadari. Malaikat Jibril menyampaikan salam Allah. Wanita agung itu pun mengenakan pakaian surga. Sayyidah Fathimah pun datang ke acara pernikahan itu dengan penuh keagungan dan kemuliaan. Para bidadari mengambil berkah dari tanah bekas jejak langkah kaki Sayyidah Fathimah dan mengusapkannya pada mata mereka, lalu berjalan di samping wanita terbaik semesta alam itu. Para bidadari tampak riang dan gembira. Masing-masing menampakkan kecintaannya kepada wanita suci itu. Mereka pun menebarkan wewangian surgawi pada tubuh suci Sayyidah Fathimah dan bangga atas apa yang telah mereka lakukan.
Tatkala menyaksikan semua kemuliaan, keagungan, pakaian, dan wewangian surgawi, Sayyidah Fathimah merasa bahagia dan bersyukur kepada Allah. Lisannya tak henti-henti bersyukur kepada Allah, Sang Pemilik keagungan.
Ketika hampir tiba di rumah pengantin wanita, cahaya suci mereka menerangi seluruh wanita yang hadir dalam acara itu. Seluruh wanita memandangi wajah dan pakaian Sayyidah Fathimah yang memancarkan cahaya dengan penuh kagum dan terpesona. Secara spontan, mereka menyambut wanita agung ini hingga tak seorang pun mendampingi pengantin wanita. Sebagian menciumi tangan dan kaki Sayyidah Fathimah serta mengantar masuk pemuka para wanita ini ke dalam majlis pernikahan dengan penuh penghormatan dan kemuliaan.
Meski para wanita bangsawan mengenakan pakaian mewah dan mahal, namun tatkala melihat pakaian wanita agung itu, sifat hasut dan dengki merasuki hati mereka. Bahkan, pengantin wanita tak sanggup menanggung malu dan akhirnya jatuh pingsan ke tanah dari kursi yang didudukinya. Ketika orang-orang datang mengelilinginya untuk melihat keadaannya, ternyata pengantin wanita itu telah meninggal dunia. Kaum wanita menjerit dan meratap. Semua menangis dan berkata, "Fathimah al-Zahra telah menyebabkan seluruh wanita tertuju padanya sehingga pengantin wanita meninggal dunia lantaran menahan amarah."
Sayyidah Fathimah terkejut menyaksikan kejadian tersebut dan bersedih atas kematian pengantin wanita itu. Tanpa menunda, Sayyidah Fathimah bangkit dan segera berwudu. Setelah itu, dia mendirikan shalat (hajat) dua rakaat dengan disaksikan oleh mereka. Dalam sujudnya, dia memohon, "Ya Allah, demi kemuliaan dan keagungan-Mu! Demi kesucian dan kemuliaan ayahku, Rasulullah dan suamiku, Amirul Mukminin Ali al-Murtadha! Demi keutamaan kepatuhan dan ibadah hamba-hamba pilihan-Mu! Hidupkanlah pengantin wanita ini dan selamatkan daku dari fitnah!"
Sayyidah Fathimah masih bersujud dan tenggelam dalam munajatnya tatkala tiba-tiba mereka melihat pengantin wanita itu bergerak dan bersin. Dengan izin Allah, pengantin wanita itu berdiri dan menjatuhkan diri di hadapan pemuka kaum wanita, kekasih Allah, putri Rasulullah, istri Amirul Mukminin Ali, ibu para imam, Fathimah al-Zahra, seraya berkata, "Salam sejahtera bagi Anda, wahai putri Rasulullah. Salam sejahtera bagi Anda, wahai suami kekasih Allah, Amirul Mukminin Ali. Saya bersaksi bahwa Allah Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi bahwa ayah Anda Muhammad bin Abdillah adalah rasul dan utusan-Nya. Dan saya bersaksi bahwa engkau, suami Anda, dan anak-anak Anda berada di atas jalan kebenaran. Barangsiapa yang menempuh jalan kekafiran, kemusyrikan, dan penyembahan berhala, maka dia berada di atas kebatilan. Saya menyatakan masuk Islam di hadapan Anda."
Hari itu, 700 orang pria dan wanita di antara keluarga dan kerabat pengantin wanita dan pria itu memeluk agama Islam. Tatkala kejadian ini tersebar ke kota-kota lain, banyak orang yang masuk Islam. Ketika acara pernikahan usai, Sayyidah Fathiimah al-Zahra pulang ke rumah dan menceritakan seluruh kejadian acara pernikahan itu kepada ayahnya.
Setelah mendengar apa yang terjadi dari Sayyidah Fathimah, Rasulullah saw bersujud syukur seraya memuji Allah Swt. Beliau mendekap putrinya di dadanya seraya berkata, "Wahai cahaya mataku, dari apa yang engkau ceritakan, ribuan kali bahkan lebih aku berharap kepada Allah agar (itu) terjadi padamu."
Makanan Ghaib
Al-Hasan dan al-Husain tak makan selama tiga hari dan tubuh mereka pun lemas lantaran kelaparan. Kemudian, mereka minta sesuatu kepada ibu mereka. Karena di rumah tak ada sesuatu yang bisa dimakan, Sayyidah Fathimah berusaha menghibur anak-anaknya dengan berkata, "Kakek kalian akan datang dengan membawa sesuatu untuk kalian."
Tak lama kemudian, mereka kembali meratap, sehingga Sayyidah Fathimah merasa iba dan meneteskan air mata. Lalu, Sayyidah Fathimah mengumpulkan beberapa batu kerikil dan memasukkannya ke dalam kuali berisikan air serta memanaskannya di atas api. Dia melakukan itu untuk menghibur hati anak-anaknya. Dia berkata, "Anakku sayang, bersabarlah! Masakan belum matang."
Al-Hasan dan al-Husain keluar rumah. Selang beberapa lama, mereka datang dan berkata kepada ibu mereka, "Jika makanan sudah matang, hidangkanlah untuk kami."
Wanita agung itu berkata, "Sampai sekarang belum matang. Bersabarlah sampai makanan itu matang."
Imam Hasan mendekati kuali itu dan mengangkat tutupnya seraya berkata, "Ibu, makanan sudah matang atau belum? Bawakanlah sedikit agar kami bisa memakannya."
Sayyidah Fathimah mengangkat tutup kuali itu dan berkata, "Makanan sudah matang…"
Tatkala Sayyidah Fathimah membuka tutup kuali itu, dia melihat makanan sudah matang dan mengeluarkan aroma sedap. Dia pun segera mengambil makanan itu dan menghidangkannya untuk al-Hasan dan al-Husain. Mereka pun mulai menyantap makanan itu. Sementara, Sayyidah Fathimah kembali berwudu dan melakukan shalat sebagai tanda syukur atas karunia Allah. Saat berita ini terdengar oleh Rasulullah saw, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah! Seperti inilah dirimu, wahai Fathimah, sebagaimana keturunan para nabi dan wali Allah sebelumnya."
4.Hidangan langit
Dalam penafsiran atas ayat: Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, dia dapati makanan di sisinya… Zamakhsyari dalam kitab tafsirnya (al-Kabir) menukilkan dari Rasulullah saw: Pada musim kemarau yang menimpa Madinah, rasa lapar melemahkan tubuhku. Fathimah al-Zahra mengirimkan semangkuk makanan untukku. Aku ambil makanan itu dan datang ke rumah Fathimah. Setibanya di sana, aku memanggilnya. Dia pun datang dan membuka kain penutup mangkuk itu. Aku melihat mangkuk itu penuh dengan daging dan roti. Aku terkejut dan menyadari bahwa makanan ini adalah hidangan dari langit. Lantas aku bertanya kepada Fathimah, "Dari mana engkau memperoleh makanan ini?"
Fathimah menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab."
Aku pun meneteskan air mata dan berkata, "Segala puji bagi Allah yang menjadikanmu serupa dengan Maryam."
Kemudian aku mengundang Ali, al-Hasan, al-Husain, dan seluruh tetangga. Semuanya makan sampai kenyang, sementara makanan itu tetap utuh. Fathimah mengirimkan makanan itu untuk seluruh tetangganya. Hari itu, orang-orang yang kelaparan menjadi kenyang berkat kemuliaan Fathimah al-Zahra.
Hadiah Allah untuk Sayyidah Fathimah
Ibnu Abbas meriwayatkan: Suatu hari, saya sedang duduk-duduk bersama Rasul Mulia saw. (Imam) Ali, (Sayyidah) Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain duduk di hadapan beliau.
Waktu itu, Malaikat Jibril turun sambil membawa buah apel untuk Rasulullah saw dan mengucapkan salam kepada Rasul Mulia saw. Rasulullah saw menghadiahkan apel tersebut kepada (Imam) Ali. (Imam) Ali mencium apel itu. Seraya berterima kasih, (Imam) Ali mengembalikan apel itu kepada Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw menghadiahkan apel itu kepada al-Hasan. Al-Hasan juga mencium apel itu dan mengembalikannya kepada Rasulullah saw seraya mengucapkan terima kasih. Rasulullah saw lalu menghadiahkan apel itu kepada al-Husain. Al-Husain mengambil apel itu dan menciumnya. Setelah itu, dia juga mengembalikannya kepada Rasulullah saw seraya mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. Lalu, Rasulullah saw menghadiahkan apel itu kepada (Sayyidah) Fathimah. (Sayyidah) Fathimah mengambil apel itu, menciumnya, dan mengembalikannya kepada Rasulullah saw.
Kembali Rasulullah saw menghadiahkan apel itu kepada (Imam) Ali bin Abi Thalib. Tatkala (Imam) Ali hendak mengembalikan apel itu kepada Rasulullah saw, tiba-tiba apel itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah. Apel itu terbelah menjadi dua dan sebuah cahaya memancar darinya hingga menembus langit pertama. Pada saat itulah, saya melihat tulisan pada apel itu yang menyatakan: Dengan menyebut asma Allah yang Mahakasih lagi Mahasayang. Apel ini merupakan hadiah dari Allah yang Mahatinggi untuk Muhammad al-Mushtafa, Ali al-Murtadha, Fathimah al-Zahra, al-Hasan, dan al-Husain. Dan juga merupakan jaminan keselamatan dari siksa api neraka pada hari kiamat bagi orang-orang yang mencintai mereka.
Salam Bidadari Untuk Sayyidah Fathimah
Salman al-Farisi menuturkan: Saya pergi ke rumah Sayyidah Fathimah.
Beliau as berkata, "Sepeninggal ayahku, mereka menzalimiku."
Kemudian beliau berkata kepadaku, "Duduklah!"
Saya pun duduk. Kembali beliau berkata kepadaku, "Kemarin, saya sedang duduk dan pintu rumah tertutup. Saya tengah berfikir tentang terputusnya wahyu dari kami dan perginya malaikat dari rumah kami semenjak ayahku wafat. Tiba-tiba, pintu terbuka tanpa ada orang yang membukanya. Tiga bidadari surga masuk ke rumah seraya berkata, 'Kami bidadari dari Dârus Salâm. Tuhan semesta alam mengutus kami untuk menemuimu dan kami sangat merindukanmu, wahai putri Muhammad.'"
"Saya bertanya kepada salah satu di antara mereka yang usianya lebih tua, 'Siapa namamu?' Dia menjawab, 'Saya Maqdurah dan diciptakan untuk Miqdad bin Aswad.' Saya bertanya pada yang kedua, 'Siapa namamu?' Dia menjawab, 'Saya Dzurrah dan diciptakan untuk Abu Dzar al-Giffari.' Saya bertanya kepada yang ketiga, 'Siapa namamu?' Dia menjawab, 'Saya Salma dan diciptakan untuk Salman al-Farisi.'"
"Mereka mengeluarkan nampan yang di atasnya terdapat kurma seperti roti-gula yang warnanya lebih putih dari salju dan aromanya lebih harum dari minyak wangi misik. Saya menyimpan bagian untukmu (lantaran engkau termasuk dari kami, Ahlul Bait). Berbukalah puasa dengan kurma ini dan besok bawakan bijinya untukku."
Saya (Salman) mengambil kurma itu dan pergi. Setiap kali saya melewati sekelompok orang, mereka bertanya, "Apakah engkau punya minyak wangi misik?"
Kemudian, saya berbuka puasa dengan memakan kurma itu. Namun, saya tak menemukan biji di dalamnya. Keesokan harinya, saya datang menemui Sayyidah Fathimah dan berkata, "Wahai putri Rasulullah, tak ada biji di dalam kurma itu."
Beliau berkata, "Kurma itu berasal dari sebuah pohon yang ditanam Allah untukku di surga lantaran satu ucapan yang Rasulullah saw ajarkan padaku."
Kutukan Sayyidah Fathimah Bagi Musuh al-Husain as
Perawi menuturkan: Seorang lelaki yang kedua tangan dan kakinya terputus serta kedua matanya buta, dengan nada sedih berteriak, "Wahai Tuhan pemeliharaku, selamatkan daku dari api neraka."
Seseorang berkata kepadanya, "Tak ada ganjaran siksa yang tersisa untukmu. Namun engkau berkata, 'Wahai Tuhan Pemeliharaku, selamatkan daku dari api neraka?!'"
Dia menjelaskan, "Waktu itu, saya berada di Karbala. Tatkala al-Husain terbunuh, saya melihat celana dan tali pengikat berharga di tubuhnya. Seluruh pakaiannya telah dirampas dan hanya tersisa celana tersebut. Menyembah dunia memaksaku untuk merampas tali pengikat berharga itu. Saya mendekati jasad al-Husain untuk menarik keluar tali pengikat itu. Saya melihat al-Husain (yang sudah terbunuh) mengangkat tangan kanannya dan memegang tali pengikat itu.
Saya pun tak mampu menarik tali pengikat itu. Saya melihat al-Husain mengangkat tangan kirinya dan memegang tali pengikat itu. Apapun yang saya lakukan, tak mampu mengangkat kedua tangannya dari tali pengikat tersebut. Lantas saya memotong tangan kirinya untuk mengambil tali pengikat itu secara paksa. Tiba-tiba saya mendengar suara gempa menakutkan. Saya ketakutan dan menyingkir. Malam harinya, saya tidur di tempat itu, di samping tubuh-tubuh terpotong para syuhada."
"Tiba-tiba, saya melihat di alam mimpi, Nabi Muhammad datang bersama Ali bin Abi Thalib dan Fathimah al-Zahra. Mereka mengambil kepala al-Husain. Fathimah al-Zahra menciumi kepala itu dan berkata, 'Anakku, mereka membunuhmu. Semoga Allah membunuh mereka seperti yang mereka lakukan terhadapmu.'"
"Saya mendengar al-Husain menjawab, 'Syimir membunuhku dan orang yang tidur di sini telah memotong kedua tanganku.'"
"Fathimah menghadap ke arahku dan berkata, 'Semoga Allah memotong kedua tangan dan kakimu, membutakan kedua matamu, dan memasukkanmu ke dalam api neraka.'"
"Saya terbangun dari tidur. Ternyata, saya benar-benar buta serta kedua tangan dan kaki saya terpotong. Tiga doa Fathimah al-Zahra telah dikabulkan dan masih tersisa yang keempat (yaitu masuk ke dalam api neraka). Oleh karenanya, saya mengatakan, 'Hai Tuhan Pemeliharaku, jauhkanlah daku dari api neraka!'"
5.Sayyidah Fatimah Azzahra as Sewaktu meninggal dunia dan keadaan orang yang di kubur.
Dikisahkan bahawa sewaktu Fatimah r.a. meninggal dunia maka jenazahnya telah diusung oleh 4 orang, antara :-
1. Ali bin Abi Talib (suami Fatimah r.a)
2. Hasan (anak Fatima r.a)
3. Husin (anak Faimah r.a)
4. Abu Dzafrrin Al-Ghifary r.a
Sewaktu jenazah Fatimah r.a diletakkan di tepi kubur maka Abu Dzafrrin Al-Ghifary r.a berkata kepada kubur, “Wahai kubur, tahukah kamu jenazah siapakah yang kami bawakan kepada kamu ? Jenazah yang kami bawa ini adalah Siti Fatimah az- Zahra, anak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .”
Maka berkata kubur, “Aku bukannya tempat bagi mereka yang berdarjat atau orang yang bernasab, adapun aku adalah tempat amal soleh, orang yang banyak amalnya maka dia akan selamat dariku, tetapi kalau orang itu tidak beramal soleh maka dia tidak akan terlepas dari aku (akan aku layan dia dengan seburuk- buruknya).”
Abu Laits as-Samarqandi berkata kalau seseorang itu hendak selamat dari seksa kubur hendaklah melazimkan empat perkara semuanya :
1. Hendaklah ia menjaga solatnya
2. Hendaklah dia bersedekah
3. Hendaklah dia membaca al-Quran
4. Hendaklah dia memperbanyakkan membaca tasbih karena dengan memperbanyakkan membaca tasbih, ia akan dapat menyinari kubur dan melapangkannya.
Adapun empat perkara yang harus dijauhi ialah :
1. Jangan berdusta
2. Jangan mengkhianat
3. Jangan mengadu-domba (jangan suka mencucuk sana cucuk sini)
4. Jangan kencing sambil berdiri
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda yang bermaksud, “Bersucilah kamu semua dari kencing, karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur itu berasal dari kencing.”
Seseorang itu tidak dijamin akan terlepas dari segala macam siksaan dalam kubur, walaupun ia seorang alim ulama’ atau seorang anak yang bapanya sangat dekat dengan Allah. Sebaliknya kubur itu tidak memandang adakah orang itu orang miskin, orang kaya, orang berkedudukan tinggi atau sebagainya, kubur akan melayan seseorang itu mengikut amal soleh yang telah dilakukan sewaktu hidupnya di dunia ini.
Jangan sekali-kali kita berfikir bahwa kita akan dapat menjawab setiap soalan yang dikemukakan oleh dua malaikat Mungkar dan Nakir dengan cara kita menghafal. Pada hari ini kalau kita berkata kepada saudara kita yang jahil takutlah kamu kepada Allah dan takutlah kamu kepada soalan yang akan dikemukakan ke atas kamu oleh malaikat Mungkar dan Nakir, maka mereka mungkin akan menjawab, “Ah mudah saja, aku boleh menghafal untuk menjawabnya.”
Itu adalah kata-kata orang yang tidak berfikiran. Seseorang itu tidak akan dapat menjawab setiap soalan di alam kubur jikalau dia tidak mengamalkannya sebab yang akan menjawab ialah amalnya sendiri. Sekiranya dia rajin membaca al-Quran, maka al- Quran itu akan membelanya dan begitu juga seterusnya.
BAB IV
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
sayyidah fatimah lahir Pada hari kedua puluh Jumadi Tsani,
dimana Rasulullah SAW telah melewati masa lima tahun dari di utusnya beliau menjadi Rasul, seorang bayi perempuan telah membuka matanya ke dunia ini yang mana rumah Rasul SAW telah dipenuhi oleh cahaya lebih dari sebelumnya dan juga memberikan kesan yang dipenuhi dengan kecemerlangan dan kesegaran serta kegembiraan khusus.
Rasulullah SAW kelihatan sangat gembira dan betapa bahagia dengan lahirnya bayi ini dan beliau sangat menikmatinya seraya berkata: “Putri ini adalah ruh dan jiwa saya, dan saya menghirup bau surga dari wujudnya.”
sebagai cerminan masa kini dan esok. Membaca sejarah dan riwayat hidup para tokoh,orang besar, nabi, serta manusia-manusia suci, tidak sekedar menghafalkan kisah-kisah mengagumkan dan kejadian luar biasa didalamnya untuk diceritakan. Membaca riwayat sejarah, lebih jauh merenungkan dan memikirkannya serta mengkaji kehidupan mereka dengan teliti agar dapat memperoleh pelajaran-pelajaran kehidupan, mengetahui kunci-kunci taufik dan rahasia keagungan, sehingga dapat mengambil hikmah serta kita teladani jejaknya. Terkhusus tentang Sayyidah Fatimah Azahra, beliau memiliki keutaman-keutamaan dalam kehidupannya hingga penting untuk senantiasa kita pelajari bagaimana pribadi perempuan agung ini. Sayyidah Fatimah Azzara adalah teladan perempuan muslimah, ia hidup dalam naungan ayahandanya yang suci dan tumbuh dibawah asuhan sang pembawa wahyu Allah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau secara langsung mendapatkan pendidikan islam yang murni dari Nabi sendiri, hingga terpancarlah pribadi mulia dalam dirinya.